Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Hai Malam…

Hai malam…. tahukah engkau tentang hati yang dipenuhi ego, hati yang dipenuhi gelisah, ya… hatiku lantas hati siapa? Hai bulan… tahukah tentang apa yang aku lakukan? aku menutupi kebohongan dengan cinta, aku hiasi keangkuhan dengan kasih sayang, ya… kelakuanku lantas kelakuan siapa?, puing-puing kebohongan menyengat aroma penyesalan yang ingin ku sampaikan padanya? Tapi aku takut dia lari setelah aku ceritakan semuanya…

Cerita Sore Hari

Aku bangun dari tidur

Terdiam tak bergeming

Seakan jiwaku terlepas

Pandanganku jatuh pada satu titik

Titik yang sebelumnya tak pernah aku kenal


Bumi seakan merengek dalam kepedihan

Sunyi merasuk sumsum nyeri terasa dihati

Dalam sadar aku bertanya “kemana mereka?”

Suara burung yang kemarin nyaring terdengar

Gelagak tawa bocah riang piggiran kota

Gemuruhnyagemuruhnya tak lagi terdengar


Dalam gelap aku berjalan

Hanya kucing dungu temani aku

Yang sesekali matanya terbelalak

Mencoba sapa aku dalam lamunan

Taringnya yang tajam lambang kesetia kawanan


Kucing dungu terlelap dalam mimpiku

Putaran waktu kembali buyarkan sombongku

Terlihat lesu jiwaku duduk diantara kebimbangan

Dan aku masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi

Kutarik selimbutku dan kuteruskan cerita sore ini

Opera di sebuah taman

Lihat ulat itu

Lihat kepompong itu

Lihat kupu-kupu itu

Lihat dulu orang memicingakan mata menatapnya

Lihat kini mereka memuji dengan menjual kebenciannya

Terka apa yang terjadi padaku

Terka apa yang aku rasakan

Terka kemana harapanku pulang

Terka siapa yang memapahnya berjalan

Ya kepercayaanku terhadap semua yang kau lakukan

Ya kepercayaanmu terhadap rasa yang kita padukan

Mungkin kau letih menungguku di dermaga

Tanpa teman tanpa sapaan

Kau berfikir kehadiranmu mengusik kedamaianku

Bohong besar bila aku menjawab, Iya

Hatiku memang damai1

Namun tanpa kehadiranmu

Kedamian itu tak lebih dari suasana heningnya pemakaman

Masihkah kau tidak sadar

Mimpi itu sudah menjadi kenyataan

Kenyataan dimana kita memang harus berdampingan

Walau terkadang kita terpisah oleh kabut yang tipis

Jadi jangan pernah kau katakan lagi

Kata-kata tentang kehadiranmu yang mengusiku

Karena kata-kata itulah yang sebenarnya membunuhku

Bunga bermahkota mulai berguguran

Hilang kepercayaan tentang cinta

Cinta yang selama ini mengharumkannya

Hanya karena cinta itu berasal dari ulat

Hanya karena kerinduan itu hadir saat dia berubah jadi kepompong

Lantas dia mengeluh dengan segala yang dia dapatkan

Padahal ulat itu mencoba membahagiakannya dari kematian

Menjadi kupu-kupu adalah garis kehidupan

Antara hitam dan putih

Antara cinta dan keragu-raguan

Catatan Kecil

Hari ini kembali ku teringat catatan kusam yang menaruh sebuah pengharapan, lusuh karena terlalu erat ku pegang, aku tersenyum dalam keterasingan ketika hari ini kunyalakan api dari lilin-lilin kebisuan, semoga dalam tidurmu engkau mendengar nyanyian kegembiraannya, berpacu dalam kantuk terbelah sebilah resah kucoba menata kembali sesuatu yang pernah terkoyak ego terjilat amarah, dalam kesederhanaan ini kurantai malam yang dingin dengan ucapan maaf yang meluap setelah engkau lelah menelan hari.

Ku setubuhi harapan untuk menjadi sempurna, ku jelejahi setiap selangkangannya yang menyuguhkan kebingungan dan sedikit rasa gundah akan kehilangan, kuusap telapak kakinya agar ia tersadar dari mimpi panjang yang tengah menunggangi matanya, ayo lekaslah berlari langit mulai mendung, jalanan mulai berdebu, dan kerikil-kerikil tajam mulai menunjukan taringnya siap menerkam saat engkau lalai, tetaplah terjaga jangan biarkan setiap kesempatan engkau lewatkan begitu saja, hujamkan asa pada setiap raga yang keruh, biarkan semua berwarna dan tersenyum lagi.

Hari ini kutanggalkan semua pakaian ku, kutelanjangi hati ini agar engkau mengerti, agar engkau tahu betapa cinta ini terlalu membiru, membekas dalam setiap lipatannya, hati ini sudah mulai kedinginan namun engkau tak jua membuka mata, saat aku lelah engkau pun terjaga, terbuka matamu bergetar mulutmu tanpa pengadilan engkau memvonisku salah, aku tak tahu apa yang harus kukatakan, yang aku bisa hanya menutup telingaku dan kuajak pergi hatiku ketengah riuhnya pesta pora berharap tangisnya tak terdengar, terlena dalam setiap langkah dansa, namun semua itu hanya mimpi tetap saja aku terluka…

sendal-jepit

Aku dan dia bagaikan sendal jepit, mencoba tetap bersama walaupun dalam kesederhanaan, selalu terinjak oleh congkaknya amarah yang menjadi kaki diatas pundak-pundak kami, orang mencibirkan bibir bukan suatu hal yang luar bisa, jalan sepi, becek dan kumuh adalah rumah kami untuk merenungkan apa yang terjadi…

Celoteh Revolusi!!!

Renungkan kenangan terbaik selama kita berjuang bersama, renungkan kenangan terpahit ketika kita saling menopang dalam laju derasnya zaman, ya… aku masih ingat itu semua dan akan kuletakan dalam selaksa jantungku kemudian kutata rapi sebagai bara perjuangan kita hari esok, kita akan selalu berkumpul diantara perapian itu, membicarakan tentang nasib kita yang tak lagi makan nasi dari hasil keringat pak tani, berbicara tentang para pejalan kaki yang sunyi lelah tak berdaya setelah seharian bercumbu dengan mata-mata mandor yang genit dan penuh kecurigaan, berbicara tentang riuhnya bacah-bocah penyemir sepatu… senyumnya… ya senyumannya… aku masih ingat itu, tanpa ragu mereka bergumam ketika bisa melihat wajahnya sendiri dari kilapan sepatu yang mereka sikat… atau kita akan membicarakan dasi-dasi mereka yang penuh dengan ornament kemunafikan… atau hanya akan berbicara tentang masih merahkah panji kita… atau apalah itu yang jelas aku rindu akan semua itu…

Dimana kemarin kita simpan mimpi-mimpi kita? Aku tak bisa mengingatnya apa lagi menemukannya, kucari di rak-rak buku yang ada hanya kepala-kepala para filsosof, kucari di balik bantal yang ada hanya ketakutan dan trauma yang tersisa akibat terkena pentungan polisi siang tadi, setelah seharian kita mengejek dan mengolok-ngolok orang nomor satu di negeri ini, tapi ku akui semua itu adalah kisah yang paling romantis, oh iya aku ingat ternyata kemarin kita simpan semua itu di kelunya lidah kita, coba kita muntahkan bersama-sama… lihat begitu banyaknya angan-angan yang selama ini kita simpan, ayo lekas kita bergerak dan mulai kita susun satu persatu, kita buatkan kastil-kastil kecil untuk tempat berteduh mereka yang diramapas tanah dan rumahnya, kita buatkan pabrik-pabrik dimana para buruh merasa aman dan nyaman di dalamnya, atau kita buatkan sekolah-sekolah dimana kita akan mendidik dan membesarkan anak-anak kita menjadi Soekarno kecil, Che Guevara Kecil, Sjahrir kecil, Marcos kecil, Ahmadinejad kecil, Tan Malaka kecil, Hugo Cavez kecil, Kartini kecil, Malcom X kecil dan… Muhammad Darwis kecil… tak habis pikir bagaimana jadinya kalau mereka hidup dalam satu Negara dan bersama-sama melakukan perubahan…

Aku hanya berusaha menjadi saudara yang baik, yang ingin meartikulasikan cinta dalam sebuah perjuangan, yang ingin melakukan sesuatu yang kuanggap penting agar kita semua lebih terlihat seperti seseorang, agar kita semua tidak hanya terlihat seperti gerombolan… sebagian dari mereka mungkin tertawa terpingkal-pingkal, kita hentikan tawa mereka karena semua itu sudah cukup menggangu tidur kita, kita tunjukan pada mereka bahwa kita adalah pewaris tampu pimpinan umat yang sejati… hari ada malam… hari ada siang… dalam hari pasti ada kemungkinan… dalam hari pasti ada kesempatan…

Jayalah IMM Jaya…

Hidup Mahasiswa…!!!

Hidup Buruh…!!!

Hidup Tani…!!!

Hidup Wanita Progresif…!!!

Hidup Rakyat…!!!

Hidup IMM…!!!

POTRET DAPUR BANGSA

POTRET DAPUR BANGSA

Setelah sekian lama Indonesia jatuh bangun dihadapkan kepada berbagai persoalan bencana alam, mulai dari bencana alam tsunami yang menelan korban hampir setengah penduduk Namroe Aceh Darussalam sampai pada gempa bumi Jogja-Jateng yang juga telah menelan korban yang tidak sedikit, kini Indonesia dihadapkan dengan bencana yang lebih besar, yang apabila dibiarkan begitu saja tanpa penanganan yang serius dampaknya akan melebihi bencana alam manapun yang pernah singgah di negeri kita ini, bencana tersebut adalah bencana sosial, gejolak sosial yang sampai detik ini terjadi di Indonesia tidak pernah menunjukan posisi stabil, ada saja yang memicu elemen-elemen yang ada dalam lingkar sosial tersebut untuk bergejolak dan saling bergesekan, yang seakan-akan semua itu sengaja di pelihara agar bisa menjadi suatu fenomena yang menjulang layaknya gunung es, sebut saja isu tentang Ahmadiyah yang membuat geram umat Islam sebagai poros tengah kehidupan sosial di Indonesia, karena sebagaimana yang kita tahu umat Islam merupakan penduduk mayoritas di negeri ini, belum hilang rasa geram di rahang umat muslim kembali gesekan sosial tersebut di perburuk dengan tragedi Monas yang melibatkan FPI (Front Pembela Islam) dengan AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Berkepercayaan) yang pada secara tidak langsung telah menggoreskan garis-garis pemisah diantara umat muslim di Indonesia, dimana umat Islam terpecah menjadi kubu yang pro dan kubu yang kontra terhadap eksistensi FPI tersebut, yang kemudian kondisi ini semakin memperkeruh situasi sosial yang ada. Kasus lainnya adalah demonstrasi yang akhir-akhir ini marak dilakukan baik itu oleh mahasiswa maupun organisasi-organisasi masa lainnya, maraknya aksi massa yang ada itu tidak lain dan tidak bukan untuk merespon kebijakan pemerintah tentang penaikan harga BBM yang dianggap sangat tidak berpihak kepada rakyat.

Dengan mata telanjang disini kita bisa melihat terdapat persamaan diantara dua fenomena sosial tersebut, yaitu apa yang tengah terjadi di negeri kita ini telah mengantarkan bangsa Indonesia kearah prilaku hidup yang cenderung radikal, yang jelas-jelas semua ini bias sangat menggangu stabilitas nasional yang pada puncaknya bisa saja mengakibatkan perpeacahan di tubuh bangsa besar ini dan hal tersebut sangat berbahaya sekali bagi ketahanan dan keutuhan NKRI. Kemudian dari kedua fenomena tersebut juga kita bisa menarik sebuah perbedaan yang menggambarkan begitu kompleksnya potensi konflik yang terbangun dalam kehidupan sosial di Indonesia. Yang pertama dari kasus Ahmadiyah, kekeceawaan masyarakat terutama umat muslim di sini dalam fase yang lebih kritis akan membentuk konflik horizontal (antar masyarakat) dan bila kita cermati secara seksama isu yang bermain disini merupakan isu yang berkaitan erat dengan syara (agama), belajar dari pengalaman yang telah ada baik itu tragedi Halmahera utara maupun konflik Poso, biasanya konflik-konflik yang dilatarbelakangi oleh syara ini bisa dengan mudah menyebar secara sporadis dan menimbulkan konflik yang sangat besar karena didalamnya terjadi gesekan prinsip, ideologi dan kepercayaan yang sangat mendasar, ditambah lagi dengan terpecahnya umat Islam yang merupakan buntut dari tragedi Monas yang telah disebutkan tadi, ini akan sangat memperparah keadaan yang ada karena sudah barang pasti dengan adanya perpecahan di tubuh penduduk mayoritas ini kelompok-kelompok yang berselisih akan semakin bertambah banyak. Yang kedua, adalah aksi demonstrasi yang akhir-akhir ini marak dilakukan oleh kalangan aktivis baik itu mahasiswa maupun organisasi-organisasi massa yang ada, dimana kekesalan dan curahan hati para demonstran dibeberapa tempat disikapi pemerintah dengan cara yang kurang bersahabat dan cenderung mengabaikan nilai-nilai demokrasi yang selama ini dibangun, terjadinya penangkapan terhadap aktivis/demonstran dan berbagai tindakan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian selama mengawal aksi para parlemen jalanan itu menyulut gelombang kecaman yang sangat deras yang pada puncaknya menyulut kerusuhan dan berbagai tindakan anarkis para demonstran pada aksi massa di depan gedung DPR yang digawangi oleh Komite Bangkit Indonesia sekitar pertengahan bulan juli 2008 yang lalu. Dari kejadian ini kita melihat adanya konflik vertikal antar birokrat dan rakyatnya semakin terbuka lebar, hal-hal seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila kita kembali berkaca pada tragedi Semanggi dan lebih-lebih setelah tegak dan berkibarnya bendera reformasi di negeri ini yang menandakan dimulainya masa demokrasi.

Adanya ruang dan kesempatan yang terbuka lebar untuk pecahnya suatu konflik yang kompleks dimana konflik horizontal (antar masyarakat) terjadi bersamaan dengan konflik vertikal (pemerintah dan masyarakat) ini terjadi akan sungguh-sungguh menjadi suatu bencana yang begitu mengerikan karena sudah barang pasti akan terjadi chaos diberbagai pelosok negeri, terjadi perang saudara dimana suatu kelompok akan menjadi common enemy bagi kelompok yang lainnya dan semua orang akan begitu sangsi melihat kebenaran-kebenaran yang sebelumnya ada.

Tampaknya bangsa Indonesia harus kembali banyak belajar dari pengalaman yang ada dan kembali menggali dan memahami falsafah hidup kebhinekaan yang selama ini kita pegang teguh, dimana satu sama lain bisa menerima perbedaan kemudian membangun kesejahtraan, keadilan dan kesempurnaan hidup di atasnya, karena bagaimanapun kita sebagai generasi penerus bangsa harus mampu mengawal apa yang pernah terlahir dari perjuangan ini sampai batas akhir dimana Tuhan menghendakinya. Kalau memang semua ini adalah suatu pengorbanan tentu bukan milik segelintir orang oleh karena itu kita semua harus menyikapi dan memandang semua persoalan yang singgah di negeri ini dengan kepala dingin dan kebijakan yang nyata agar apa yang selama ini kita lakukan bersama menjadi suatu kontribusi tehadap laju pembangunan bangsa, bukannya menghancurkan apa yang telah kita dapatkan.

Masyarakat dan pemerintah harus bisa menjadi teman yang akrab meningkatkan frekuensi untuk bertemu dan bertukar pikiran secara langsung. Kontrak politik yang ada, yang terbangun ketika segenap rakyat memilih mereka yang duduk di kursi pemerintahan hendaknya ditinjau dan di renungkan kembali, agar semua elemen yang ada bisa memahami posisinya masing-masing, dengan begitu semua bisa tahu dan mengerti akan kewajibannya terhadap satu sama lain dan bisa bergerak sesuai wliayah kerjanya masing-masing sehingga tercpta kinerja yang mampu menyokong pembangunan secara optimal. Sebuah catatan khusus bagi pemerintah, semua kebijakan yang dikeluarkan pemerintah haruslah berpihak kepada rakyat banyak bukan hanya sekedar beberapa kelompok atau golongan saja, karena hakikatnya masyarakat merupakan objek pembangunan yang sesungguhnya dan sudah menjadi suatu bentuk kewajiban pemerintah untuk lebih memprioritaskan perhatiannya dalam memperhatikan dampak yang ditimbulkan pada rakyatnya akibat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkannya tersebut, bukan lagi berbicara seberapa besar yang bisa saya dapatkan, tingginya gengsi atau eksistensi yang terbangun apalagi jika semua kebijakan yang dikeluarkan itu hanya sekedar untuk mengamankan APBN semata, karena ± 250.000.000 jiwa rakyat Indonesia lebih berharga dari itu semua.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.