Renungkan kenangan terbaik selama kita berjuang bersama, renungkan kenangan terpahit ketika kita saling menopang dalam laju derasnya zaman, ya… aku masih ingat itu semua dan akan kuletakan dalam selaksa jantungku kemudian kutata rapi sebagai bara perjuangan kita hari esok, kita akan selalu berkumpul diantara perapian itu, membicarakan tentang nasib kita yang tak lagi makan nasi dari hasil keringat pak tani, berbicara tentang para pejalan kaki yang sunyi lelah tak berdaya setelah seharian bercumbu dengan mata-mata mandor yang genit dan penuh kecurigaan, berbicara tentang riuhnya bacah-bocah penyemir sepatu… senyumnya… ya senyumannya… aku masih ingat itu, tanpa ragu mereka bergumam ketika bisa melihat wajahnya sendiri dari kilapan sepatu yang mereka sikat… atau kita akan membicarakan dasi-dasi mereka yang penuh dengan ornament kemunafikan… atau hanya akan berbicara tentang masih merahkah panji kita… atau apalah itu yang jelas aku rindu akan semua itu…
Dimana kemarin kita simpan mimpi-mimpi kita? Aku tak bisa mengingatnya apa lagi menemukannya, kucari di rak-rak buku yang ada hanya kepala-kepala para filsosof, kucari di balik bantal yang ada hanya ketakutan dan trauma yang tersisa akibat terkena pentungan polisi siang tadi, setelah seharian kita mengejek dan mengolok-ngolok orang nomor satu di negeri ini, tapi ku akui semua itu adalah kisah yang paling romantis, oh iya aku ingat ternyata kemarin kita simpan semua itu di kelunya lidah kita, coba kita muntahkan bersama-sama… lihat begitu banyaknya angan-angan yang selama ini kita simpan, ayo lekas kita bergerak dan mulai kita susun satu persatu, kita buatkan kastil-kastil kecil untuk tempat berteduh mereka yang diramapas tanah dan rumahnya, kita buatkan pabrik-pabrik dimana para buruh merasa aman dan nyaman di dalamnya, atau kita buatkan sekolah-sekolah dimana kita akan mendidik dan membesarkan anak-anak kita menjadi Soekarno kecil, Che Guevara Kecil, Sjahrir kecil, Marcos kecil, Ahmadinejad kecil, Tan Malaka kecil, Hugo Cavez kecil, Kartini kecil, Malcom X kecil dan… Muhammad Darwis kecil… tak habis pikir bagaimana jadinya kalau mereka hidup dalam satu Negara dan bersama-sama melakukan perubahan…
Aku hanya berusaha menjadi saudara yang baik, yang ingin meartikulasikan cinta dalam sebuah perjuangan, yang ingin melakukan sesuatu yang kuanggap penting agar kita semua lebih terlihat seperti seseorang, agar kita semua tidak hanya terlihat seperti gerombolan… sebagian dari mereka mungkin tertawa terpingkal-pingkal, kita hentikan tawa mereka karena semua itu sudah cukup menggangu tidur kita, kita tunjukan pada mereka bahwa kita adalah pewaris tampu pimpinan umat yang sejati… hari ada malam… hari ada siang… dalam hari pasti ada kemungkinan… dalam hari pasti ada kesempatan…
Jayalah IMM Jaya…
Hidup Mahasiswa…!!!
Hidup Buruh…!!!
Hidup Tani…!!!
Hidup Wanita Progresif…!!!
Hidup Rakyat…!!!
Hidup IMM…!!!
