
Aku dan dia bagaikan sendal jepit, mencoba tetap bersama walaupun dalam kesederhanaan, selalu terinjak oleh congkaknya amarah yang menjadi kaki diatas pundak-pundak kami, orang mencibirkan bibir bukan suatu hal yang luar bisa, jalan sepi, becek dan kumuh adalah rumah kami untuk merenungkan apa yang terjadi…
sendal japit, begitu banyak berjasa. tapi setelah putus tuh “srampat”nya, trus dikasih peniti
kacian yaaa
salam kenal