Lihat ulat itu
Lihat kepompong itu
Lihat kupu-kupu itu
Lihat dulu orang memicingakan mata menatapnya
Lihat kini mereka memuji dengan menjual kebenciannya
Terka apa yang terjadi padaku
Terka apa yang aku rasakan
Terka kemana harapanku pulang
Terka siapa yang memapahnya berjalan
Ya… kepercayaanku terhadap semua yang kau lakukan
Ya… kepercayaanmu terhadap rasa yang kita padukan
Mungkin kau letih menungguku di dermaga
Tanpa teman tanpa sapaan
Kau berfikir kehadiranmu mengusik kedamaianku
Bohong besar bila aku menjawab, Iya
Hatiku memang damai
Namun tanpa kehadiranmu
Kedamian itu tak lebih dari suasana heningnya pemakaman
Masihkah kau tidak sadar
Mimpi itu sudah menjadi kenyataan
Kenyataan dimana kita memang harus berdampingan
Walau terkadang kita terpisah oleh kabut yang tipis
Jadi jangan pernah kau katakan lagi
Kata-kata tentang kehadiranmu yang mengusiku
Karena kata-kata itulah yang sebenarnya membunuhku
Bunga bermahkota mulai berguguran
Hilang kepercayaan tentang cinta
Cinta yang selama ini mengharumkannya
Hanya karena cinta itu berasal dari ulat
Hanya karena kerinduan itu hadir saat dia berubah jadi kepompong
Lantas dia mengeluh dengan segala yang dia dapatkan
Padahal ulat itu mencoba membahagiakannya dari kematian
Menjadi kupu-kupu adalah garis kehidupan
Antara hitam dan putih
Antara cinta dan keragu-raguan